Finishing Furniture Bagian 1 – Cat Duco

Beberapa hari yang lalu ada seorang calon costumer menelepon saya. Ia bercita-cita merenovasi apartemennya, dan ingin sedikit berdiskusi sebelum mulai membangun. Meski belum tentu ia memilih saya sebagai kontraktornya, tapi yaa berbagi pengetahuan boleh lah…

Obrolan via telepon ini lumayan panjang. Ia berfokus pada harga. Saya tentu memakluminya, mengingat ia ingin merenov semua interior di apartemennya. “Supaya terlhat baru,” ujarnya.

Saya menjelaskan kepadanya bahwa di dunia tukang kayu, furniture atau interior seperti ini, ungkapan “Ada Rupa Ada Harga” benar-benar terjadi. Semua aspek mulai dari bahan baku, upah tukang, bahan finishing hingga  metode pengiriman sangat berpengaruh pada harga.

Dari sisi produsen, saya juga tentu harus punya standarisasi. Hal ini bertujuan agar kami dapat mengerjakan sesuatu tanpa harus kebingungan membeli bahan baku atau mencari tukang yang owkey (yoi coy..). Oleh karena itulah saya si Tukang Kayu ini menciptakan standar penggunaan bahan baku, skill tukang, dan cara pengiriman plus instalasi. Istilahnya, saya punya SOP. *hihihi

Nah, lalu apa yang menentukan sebuah furniture atau set interior itu mahal atau murah (yang sebenarnya relatif)?

Bagi saya, ada dua hal:

  1. Pertama, AKSESORIS (Engsel, Pegangan pintu, rel laci, dsb).
  2. Kedua, FINISHING (Melamin, Vernis, HPL, Decosit, Cat Duco, dll).

Nah… Dua hal ini lah yang saya coba jelaskan ke calon costumer tadi. Kita tidak bisa memukul rata karena perbedaan (harga) antara jenis aksesoris / finishing bisa sangat berpengaruh (kenaikan harganya) saat diaplikasikan ke furniture.

Di workshop saya, kami dapat menggunakan segala jenis aksesoris / finishing. Namun berdasarkan pengalaman, costumer maunya yang itu-itu saja. Selain pertimbangan harga, yaa mungkin karena saat ini yang sedang trend adalah aksesoris / finishing yang memang itu-itu saja. Kepuasan konsumen nomer satu toh?

Balik lagi ke konsultasi by phone tadi, calon costumer tersebut tampaknya sangat tertarik dengan jenis finishing cat duco. Ia mengatakan sering melihat furniture berfinishing duco di toko-toko di dalam mall. Kesan modern dan minimalis muncul dari finishing ini. Namun, pengerjaannya bisa dibilang tidak minimalis…

Untuk contoh furniture dengan finishing cat duco lainnya bisa dilihat di galery Bedroom Set = Project Impian.

Ada beberapa tahap pengerjaan finishing cat duco ini, yaitu:

  • membersihkan dan menggosok (menggunakan amplas) permukaan furniture yang akan dilapis.
  • memberikan filler (pengisi celah serat kayu).
  • membersihkan dan menggosok lagi permukaan yang telah diberi filler.
  • memberi cat dasar, biasanya dengan metode semprot.
  • membersihkan dan menggosok lagi permukaan mebel
  • Mengulang tahap (4) dan (5) berkali-kali agar mendapatkan kualitas terbaik
  • pemberian coating, dapat berupa lapisan clear coat yang glossy (mengkilap) maupun doff

Ada tujuh tahap, dan ada banyaakkk faktor lain yang berpengaruh.

  • Cuaca, panas, mendung atau hujan. Ini sangat berpengaruh pada waktu pengerjaan.
  • Teknik mengecat.
  • Teknik mencampur bahan finishing.
  • Lokasi, harus steril dari kotoran.
  • dsb, dll, dst..

Kelebihan dari teknik finishing cat duco adalah:

  • Bisa diterapkan di hampir semua jenis material kayu.
  • Pilihan warnanya tak terbatas.
  • Hasilnya mewah dan modern.
  • Bisa terlihat mengkilat (Glossy) dan Doff (apa ya padanan bahasa indonesianya? Kusam? Hmm..)

Sementara kelemahan teknik cat duco adalah:

  • Waktu pengerjaannya relatif lama, karena ada banyak proses yang harus dilalui. Kami bisa mengerjakan hingga satu bulan hanya untuk finishing saja. Ini demi hasilnya benar-benar berkualitas agar pelanggan puas tidak jadi lemas. *mulai deh garing…
  • Harganya relatif mahal. Jika finishing yang menggunakan pelapis tempelan bisa saja dilakukan oleh tukang kayu, maka finishing cat duco lebih baik dilakukan oleh tukang cat yang memang sudah trampil. Serahkan pada ahlinya. *Bukan nyomot slogan Bang Foke lho ya.
  • Daya tahan cat ini sangat tergantung ketebalan lapisan coating dan tipe cat yang dipakai. Kembali lagi ke ungkapan tadi, Ada Rupa Ada Harga.

Lalu setelah kami berbagi pengetahuan mengenai cat duco, calon costumer tadi makin tertarik dengan finishing kayu. Kami lanjut membahas berbagai finishing yang lain. Semua ada perbedaan harga, waktu pengerjaan, kualitas, dan tentu saja, penampilan.

Tulisan kedua aja kali ya, kepanjangan klo semuanya dibahas disini…:P