walkincloset 1 copy

Sedikit Tentang Kontraktor Interior Design

Mas, cara pesannya gimana sih?

Pertanyaan ini sering datang pada saya. Entah itu lewat email, telepon, sms, kode morse.. *krik

Biasanya mereka adalah yang baru pertama kali memesan furniture atau interior. Yaa saya sebagai tukang yang sok-sokan jadi Sales Promotion Boi tentu mencoba menjelaskan pelan-pelan. Dan karena sering diulang, jadi kayak ada SOP-nya. hehehe.. Kira-kira tahapnya gini:

 

1. Hal yang paling penting di awal adalah Desain dan Referensi. Setiap produksi yang kami lakukan harus & wajib berdasarkan 2 hal tersebut. Saya selalu menganggap bahwa desain dan build adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Baik itu untuk pekerjaan furniture satuan maupun set full interior.

Terkadang calon klien sudah punya referensi akan seperti apa interior mereka nantinya. Namun ada juga yang sama sekali belum ada bayangan. Kalau begini, saya akan maju ke tahap kedua.

 

2. Survey. Saya orangnya agak jadul, selalu lebih suka ketemuan dan ngobrol langsung. Bagi saya, ngobrol di email dan telepon itu suka banyak mis-nya. Entah itu karena saya yang emang suka ngobrol, kadang keluar topik. Ini gorengan berapaan? Pake keju gak? Beli 10 diskon 1 ya.. *tuhkan.

Makdarit saya selalu mengajak calon klien untuk ketemuan, bisa di lokasi langsung atau dimana aja yang penting klien terpuaskan *apasih. Yang penting obrolan mengenai desain interior atau perkiraan interiornya makin jelas. Kalau ketemuan kan tidak terbatas di pulsa atau karakter email. Bisa ngobrol Panjang x Lebar x Tinggi.

Soalnya.. Saya bawel klo urusan interior. Saya akan banyak tanya, mengorek info sedetiilll mungkin. Berapa ukuran ruangannya, style-nya yang diinginkan seperti apa. kebutuhannya apa aja. Mungkin juga ngobrolin budget. Udah punya pacar belum, cita-cita nanti klo gede ingin jadi apa..

“Bawel” saya tadi juga bertujuan agar tidak terjadi salah paham antara perencanaan (desain) dengan hasil jadi (build).   Saya akan terus mem-follow up dan bertanya atau memberi info yang dirasa perlu. Jujur saja, pembuatan interior terkadang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sayang jika hasil yang diperoleh ternyata berbeda dengan ekspektasi, yang penyebabnya adalah mis-komunikasi di awal.

 

3. Desain. Setelah puas “curhat” bareng calon klien, pekerjaan pertama saya adalah mendesain dan -kalau perlu- mencari beberapa referensi. Proses ini butuh waktu dan pikiran. Terkadang malah bisa lebih lama dari tahap build, karena disinilah kita menyamakan pikiran. Bagi saya, perencanaan yang matang akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Berbagai revisi dan mungkin ketemuan lagi akan dilakukan dalam tahap ini.

Bagi saya ada dua jenis desain, kelas ringan dan kelas berat. Desain yang ringan adalah yang tidak membutuhkan waktu dan tenaga yang lama untuk membuatnya. Biasanya calon klien sudah punya referensi, dan barang yang mau dibuat pun tidak banyak. Saya bisa memberi sketsa menggunakan SketchUp. Ini kayak gambar di atas.

Kelas berat, ini jika desain interiornya sudah full 1 ruangan atau keseluruhan bangunan. Ini butuh ketelitian dan waktu yang cukup lama. Saya biasanya menggunakan tim untuk mengerjakannya. Hal ini supaya waktu yang digunakan lebih efektif dan efisien.

Setelah desain disetujui, saya biasanya mengajukan penawaran harga produksi. Bahasa dusunnya sih Bill of Quantity. Disini akan dijelaskan menggunakan jenis bahan, ukuran, jumlah barang, dan lainnya.  Perubahan bisa kembali dilakukan, mungkin ada yang mau ditambah atau dikurangi lagi..

 

4. Produksi. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, produksi bisa kami mulai setelah desain dan perhitungan biaya sudah disepakati. Fokus utama kami adalah semua pekerjaan dilakukan di workshop, dengan harapan saat di lokasi kami tinggal melakukan instalasi dan sedikit penyesuaian. Tentu dalam perjalanannya suka muncul hal-hal di luar plan, itu biasa koq asal gak terlalu menyimpang. Penyesuaiannya bisa pada budget, list items, atau bahkan pada denah selama itu masih masuk akal.

Selama proses produksi, klien berhak mengetahui progres. Kami bukan bengkel ketok magic. Entah itu lewat foto, datang ke workshop langsung, atau lihat ke lokasi instalasi. Ini supaya koordinasi tetap berjalan.

 

5. Serah Terima. Setelah semua pekerjaan produksi dan instalasi selesai, serah terima pun dilakukan. Saya dan klien akan mencocokkan antara desain dan hasil jadi, harusnya sih tidak ada perubahan dan moga-moga sesuai harapan. Abis itu, terima duitt.. Dagang kan ujung-ujungnya itu juga boss 😛

 

Kurang lebih semua di atas juga dilakukan oleh Interior Design & Build lainnya.. Sebenarnya banyak hal lain yang terjadi dalam membuat interior, tulisan ini masih jauhh dari detil yang ada. Para ahli interior design/project management pasti bisa ngejelasin lebih bagus daripada sekedar tulisan tukang ini, tapi ini aja udah panjang banget yak?? *cierajinnulis

okesip, lanjut gergaji.